by

Trump Menunda Kampanye Demi Peringatan Pembebasan Perbudakan

Presiden petahana Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menunda pelaksanaan satu hari kampanye demi peringatan akhir perbudakan di negara tersebut, 19 Juni.

Penundaan kampanye yang akan menjadi kembalinya Trump ke depan pendukungnya untuk keterpilihan kembali sebagai Presiden AS itu disampaikan lewat akun twitter-nya, Jumat (12/6).

Dia mengatakan bakal menunda kampanye yang seharusnya digelar 19 Juni demi menghormati kegiatan hari libur yang dikenal dengan istilah Juneteenth. Pada kicauan selanjutnya, Trump mengatakan kampanye itu akan digelar sehari setelah 19 Juni.

Baca juga : IHSG Meradang 4.854 Gara-gara Asing Tarik Modal Keluar

Juneteenth atau juga dikenal sebagai Hari Pembebasan, adalah sebuah peringatan di Amerika Serikat yang merujuk pada peristiwa 19 Juni 1865, ketika pasukan Union yang dipimpin Gordon Granger membaca perintah federal di Galveston, Texas. Perintah itu berisikan tentang pembebasan warga budak menjadi individu merdeka di Texas di masa perang sipil.

Di negara Amerika Serikat sendiri selama hampir sebulan terakhir sedang diguncang aksi antirasialisme setelah puncak gunung es yang pecah atas kematian warga kulit hitam George Floyd.

Trump juga dikritik karena ia memilih Tulsa kota yang menjadi kerusuhan rasial paling mematikan dalam sejarah AS sebagai tempat kampanye tersebut. Tulsa adalah kota terbesar kedua di Negara Bagian Oklahoma, Amerika Serikat.

Pada 1921 silam di kota ini terjadi aksi kekerasan rasial yang kemudian dikenal dengan istilah Black Wall Street Massacre selain Tulsa Race Riot. Kala itu kelompok White Supremacist menyerang warga kota berkulit hitam dan bisnis merak di distrk Greenwood, Tulsa selama kurun waktu 31 Mei-1 Juni 1921.

Sebelumnya, Trump mengaku akan melanjutkan kembali kampanyenya di empat negara bagian yakni Oklahoma, Florida, Arizona, dan North Carolina.

Baca Juga :  Berbicara ke Trump, Raja Salman inginkan solusi yang adil untuk Palestina

Dalam Pilpres mendatang tokoh Partai Republik itu bakal diduga kuat bersaing ketat dengan kandidat Partai Demokrat yang juga eks Wakil Presiden AS, Joe Biden.

News Feed