by

TikTok Dibeli Oracle, Larangan Trump Dicabut?

Kesepakatan agar TikTok tetap beroperasi di Amerika Serikat (AS) semakin memberi harapan positif. Regulator AS dikabarkan secara tentatif telah menyetujui kesepakatan dengan perusahaan induk Tiktok, yakni ByteDance dan mitranya di AS, Oracle.

Jika pengaturan tersebut mendapat lampu hijau, ByteDance akan terus menjadi pemegang saham mayoritas di aplikasi video pendek tersebut. TikTok juga akan menjadi perusahaan global dengan kantor pusat di Amerika Serikat.

Baca juga : BI Prediksi Tingkat Harga September Alami Deflasi 0,01 Persen

Sementara Oracle akan menghosting data pengguna TikTok dan meninjau kode TikTok untuk keamanan. Kesepakatan itu dimaksudkan untuk memenuhi kekhawatiran keamanan nasional pemerintah AS tentang aplikasi tersebut.

Pemerintah AS juga bakal menentukan satu orang perwakilan sebagai anggota dewan direksi TikTok. Anggota itu akan menjadi ahli dalam keamanan data dan akan memegang izin keamanan rahasia.

Orang yang ditunjuk itu juga akan bertanggung jawab untuk memimpin komite keamanan yang anggotanya merupakan warga negara AS yang disetujui secara individual oleh pemerintah AS.

Perusahaan induk, TikTok Global berencana untuk mengajukan penawaran umum perdana di Amerika Serikat dalam waktu satu tahun, kata sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Walmart akan masuk dalam kesempatan itu sebagai investor minoritas dan mitra e-niaga. Jika menjadi investor minoritas, Walmart kemungkinan akan mendapatkan kursi di dewan direksi.

Melansir NBC News, Kesepakatan itu, yang masih membutuhkan persetujuan Presiden AS Donald Trump dan otoritas China.

Namun, Departemen Keuangan AS diketahui mengirim revisi proprosal kepada ByteDance agar sesuai dengan masalah keamanan nasionalnya.

TikTok menjadi salah satu platform media sosial paling populer di AS. Perusahaan tersebut mengatakan pada bulan Agustus 2020, bahwa mereka memiliki sekitar 100 juta pengguna bulanan di AS.

Baca Juga :  Houthi Klaim Tembak Jatuh Drone AS Dekat Perbatasan Saudi

Keberhasilan itu menimbulkan kekhawatiran di antara beberapa pejabat pemerintah termasuk Trump yang mengatakan bahwa aplikasi tersebut dapat menyedot data pengguna AS ke China, di mana itu dapat digunakan sebagai bagian dari operasi spionase.

Comment

News Feed