by

Terjadi Retakan Tanah di Dusun Petung Ulung, Alat Pendeteksi Longsor Tidak Berfungsi

Retakan tanah sepanjang 200 meter yang membahayakan terjadi di dekat pemukiman warga Dusun Petung Ulung, Desa Margopatut, Kecamatan Sawahan. Sementara alat pendeteksi longsor di lokasi tersebut tidak berfungsi. Kini, saat hujan turun dan pada malam hari semua warga di lokasi tersebut mengungsi.

Kepala Desa Margopatut, Solihin mengatakan, retakan tanah di lokasi tersebut sudah terjadi sejak seminggu lalu bersamaan dengan terjadinya tanah longsor di Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos. Panjang retakan tanah di Dusun Petung Ulung ini kurang lebih ada 200 meter dan lebarnya 7 sentimeter.

Baca juga : 17 Ribu Lidah Mertua Diekspor ke Singapura hingga Amerika

Ada kurang lebih sebanyak 50 rumah penduduk, sekitar 54 Kepala Keluarga (KK) dan sekitar 200 jiwa terdampak karena munculnya retakan tanah. Saat ini, warga mengungsi ke rumah saudara atau tetangga yang dianggap aman. “Mereka berada di enam titik. Jadi yang sebelah selatan itu empat titik, yang di sebelah utara dua titik,” kata Solihin.

Pihak terkait dari Provinsi Jawa Timur sudah memasang alat alarm pendeteksi longsor atau EWS. Namun hingga saat ini, alat tersebut tidak aktif. Sehingga, dipasang tanda bahaya menggunakan deteksi manual buatan warga untuk mengontrol retakan.

“Sudah saya laporkan ke BPBD. Kemudian, kemarin juga dari tim Provinsi, juga sudah mengontrol ke sini. Tetapi, dia juga mengarahkan alat yang seperti itu (alat manual yang dibuat warga),” ungkap Solihin

Menurutnya, warga pada saat siang hari masih tetap beraktivitas seperti biasa. sementara untuk ibu-ibu rumah tangga mengungsi ke rumah kerabat dan tetangganya. Namun, semua warga akan mengungsikan diri pada saat terjadi hujan dan waktu malam hari.

Baca Juga :  Bio Farma Targetkan Produksi Vaksin Corona di Kuartal I 2021

Comment

1 comment

News Feed