by

Surabaya Mau Buka SMP Kembali Saat Covid Masih Mewabah

Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur berencana membuka kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah jenjang SMP di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Rencana dibuat lantaran sejauh ini Pemkot Surabaya masih mengklaim wilayahnya telah menjadi zona hijau.

“Zonanya Covid-19 di kita sudah hijau. Jadi kami mempersiapkan andai sekolah sudah mau masuk. Karena ini masalah keselamatan. Jadi harus dipersiapkan dengan matang.

Sehingga pada saatnya masuk, bisa masuk,” kata Kepala Bidang Sekolah Menengah Dinas Pendidikan Kota Surabaya Sudarminto saat dihubungi, Selasa (4/8).

Baca juga : 5 Cara Membantu Pasangan yang Terlilit Utang

Tahap awal, sedikitnya ada 21 SMP negeri dan swasta yang tersebar di lima wilayah Surabaya yang bakal segera dibuka. Sekolah-sekolah itu disebut sebagai pilot project pembukaan kembali kegiatan di sektor pendidikan.

Di antaranya SMPN 1, SMPN 2, SMPN 3, SMPN 10, SMPN 12, SMPN 15, SMPN 19, SMPN 26, SMPN 28, SMPN 46, SMPN 62, SMP YBPK 1, SMP Petra 1, SMP Al Hikmah, SMP Santa Maria, SMP Giki 2, SMP Pawiyatan, SMP Wachid Hasyim 1, SMP Muhammadiyah 3, SMP Santo Carolus dan SMP 17 Agustus.

Sebelum sekolah-sekolah itu kembali dibuka, kata Sudarminto, pihaknya melakukan simulasi untuk melihat kesiapan-kesiapan dalam penerapan protokol kesehatan.

“Simulasi itu memberikan gambaran ketika peserta didik mulai masuk ke sekolah, proses pembelajaran di sekolah, hingga pulang ke rumah,” ungkapnya.

Pada simulasi protokol kesehatan di sekolah itu, sebelum masuk gerbang sekolah, para peserta didik diwajibkan menjalani sejumlah pengecekan, seperti pemeriksaan suhu tubuh dengan thermo gun.

Kemudian, mereka diarahkan petugas atau guru untuk mencuci kedua tangannya dengan sabu. Mereka juga harus masuk antrean ke bilik disinfektan.

Ketika proses belajar mengajar di sekolah berjalan, kapasitas jumlah para peserta didik setiap kelas dibatasi. Tempat duduk diberi jarak. Durasi jam pelajaran pun dipersingkat.

“Tidak harus seluruh mata pelajaran, dan jam pelajaran tidak harus 45 menit, bisa 25 menit. Kemudian yang masuk (peserta didik) tidak perlu 100 persen, mungkin bisa 25 persen atau 50 persen, tergantung kesiapan sarana prasarana sekolahnya,” katanya.

Tak hanya itu, pihak sekolah juga harus mempersiapkan protokol kesehatan ketika peserta didik ingin ke toilet atau melakukan aktivitas lain, di luar kelas. Begitu pula saat para siswa pulang sekolah.

Sementara itu, guru dan karyawan yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) tidak diperkenankan masuk kerja. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya risiko penularan kasus Covid-19 di lingkungan sekolah.

Comment

1 comment

News Feed