by

Sejarah Gamelan

Sejarah Gamelan

Gamelan mendahului budaya Hindu-Budha yang mendominasi Indonesia dalam catatan paling awal dan dengan demikian mewakili bentuk seni asli Indonesia.

Berbeda dengan pengaruh India yang kuat dalam bentuk seni lainnya, satu-satunya pengaruh India yang jelas dalam musik gamelan adalah dalam gaya nyanyian Jawa, dan dalam tema-tema wayang kulit.

Dalam mitologi Jawa, gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru pada era Saka 167 (c. 230 M), dewa yang memerintah sebagai raja seluruh Jawa dari sebuah istana di gunung Maendra di Medang Kamulan (sekarang Gunung Lawu). Dia membutuhkan sinyal untuk memanggil para dewa dan dengan demikian menemukan gong. Untuk pesan yang lebih kompleks, ia menciptakan dua gong lain, sehingga membentuk perangkat gamelan asli.

Gambar paling awal dari ansambel musik ditemukan di relief monumen Buddha Borobudur, Jawa Tengah abad ke-8. Para pemusik Borobudur memainkan alat musik petik seperti kecapi, berbagai kendang kendang, berbagai suling suling, simbal, lonceng, metalofon, dan gambang.

Beberapa alat musik ini memang termasuk dalam orkes gamela yang lengkap. Alat musik seperti metalofon (saron, kenong, kecer), gambang (gambang), suling bambu (suling), kendang dalam berbagai ukuran (kendang), simbal, genta (genta), kecapi, dan alat musik gesek yang dipetik dan dipetik diidentifikasi dalam gambar ini. Relief-relief dari ansambel musik ini diduga merupakan bentuk kuno dari gamelan.

Instrumen berkembang menjadi bentuk mereka saat ini selama Kerajaan Majapahit. Menurut prasasti dan manuskrip (Nagarakretagama dan Kakawin Sutasoma) yang berasal dari masa Majapahit, kerajaan bahkan memiliki kantor pemerintah yang bertugas mengawasi seni pertunjukan, termasuk gamelan. Kantor seni mengawasi pembangunan alat musik, serta menjadwalkan pertunjukan di lapangan.

Di Bali, ada beberapa gamelan selonding yang sudah ada sejak abad ke-9 pada masa pemerintahan Sri Kesari Warmadewa. Beberapa kata yang merujuk pada gamelan selonding ditemukan dalam beberapa prasasti dan manuskrip Bali kuno. Saat ini, gamelan selonding disimpan dan dilestarikan dengan baik di pura-pura kuno Bali.

Baca Juga :  Pengamat Anggap Wibawa Hukum Hilang di Kasus Air Keras Novel

Dianggap sakral dan digunakan untuk keperluan upacara keagamaan, terutama saat upacara besar diadakan. Gamelan Selonding merupakan bagian dari kehidupan dan budaya sehari-hari bagi sebagian masyarakat adat di desa-desa kuno seperti Bungaya, Bugbug, Seraya, Tenganan Pegringsingan, Timbrah, Asak, Ngis, Bebandem, Besakih, dan Selat di Kabupaten Karangasem.

Alat musik di tanah air mengalami perkembangan setelah era kolonial dengan masuknya budaya eropa dan beberapa alat musik eropa seperti biola, gitar dll.

Bicara soal Biola, apabila kalian ingin belajar menyetem atau menyelarkan dengan tutorial., bisa kunjungi website ini www.kangtutor.my.id

Comment

News Feed