by

Penyiaran Digital Indonesia Tertinggal Dibanding Malaysia

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengatakan penyiaran digital di Indonesia masih ketinggalan bila dibandingkan negara tetangga seperti, Malaysia hingga Brunei Darussalam.

Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa, mengatakan peralihan dari TV analog ke penyiaran digital atau Analog Switch-Off (ASO) ini sudah dilakukan beberapa negara karena TV analog dianggap boros frekuensi.

Baca juga : Hasil Liga Inggris: Tekuk Leicester, MU ke Liga Champions

“Kita ini negara tertinggal dalam hal ASO. TV yang ditonton di rumah itu analog. TV di Indonesia menghabiskan frekuensi, termasuk menyebabkan hp masyarakat  tidak sebaik di luar negeri, karena frekuensi broadbandnya dipakai rebutan dengan analog,” kata Henri, Kamis (23/7).

Padahal frekuensi bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lain untuk perkembangan ekonomi digital, termasuk untuk menyediakan internet cepat.

Henri mengatakan berbagai negara sudah menerapkan digitalisasi televisi. Belanda sudah menerapkan ASO sejak 2006. Sementara Inggris, Finlandia, Swedia dan Norwegia sudah sejak 2007.

Negara lain juga telah menerapkan ASO di Jerman dan Swiss pada 2008, Amerika (2009), Jepang (2011), dan Korea Selatan (2012). Beberapa negara di Asia Tenggara juga telah menerapkan ASO.

Henri menjelaskan TV analog membutuhkan pita selebar 8 MHz untuk satu stasiun televisi. Sementara pita selebar 10 MHz semestinya bisa digunakan untuk menggelar jaringan 4G yang bisa dipakai atau mencakup jutaan orang.

TV analog boros frekuensi sehingga frekuensi yang tersedia agar masyarakat bisa akses internet menjadi sedikit. Padahal saat ini di era digital, Internet sangat dibutuhkan masyarakat.

Selain itu, secara keseluruhan TV analog juga banyak memakan pita frekuensi di 700 MHz sebanyak 328 MHz. Padahal jika TV analog beralih ke digital, maka hanya dibutuhkan pita selebar 176 MHz. Sementara sisa pita selebar 112 MHz, bisa digunakan untuk keperluan lain.

Baca Juga :  Sumut Ekspor 441 Ton Durian ke China dan Malaysia

Ditambah, Indonesia juga akan memiliki cadangan 40 MHz yang bisa digunakan untuk perkembangan teknologi di masa depan. Kelebihan frekuensi ini menurutnya bisa menjadi dividen digital yang menjadi sumber keuangan negara.

News Feed