by

Pengamat Anggap Wibawa Hukum Hilang di Kasus Air Keras Novel

Direktur Legal Culture Institute (LeCI) M Rizqi Azmi menilai wibawa hukum hilang akibat proses hukum perkara penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan yang disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Terdakwa penyiraman air keras, Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis divonis bersalah. Mereka dihukum masing-masing 2 dan 1,5 tahun pidana penjara lantaran terbukti melanggar Pasal 353 ayat (2) KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Baca juga : Alex dan Marc Marquez Kecelakaan di FP2 MotoGP Spanyol 2020

“Penetapan vonis 2 tahun untuk RK [Rahmat Kadir] dan 1 tahun 6 bulan untuk RB [Ronny Bugis] oleh hakim hanya bersifat basa-basi saja di tengah gencarnya publik membedah tuntutan jaksa yang di luar nalar dan hati nurani keadilan,” kata Rizqi, Jum’at (17/7).

Rizqi mengatakan tidak ada makna ultra petita (melebihi apa yang dituntut) dalam sidang vonis kemarin. Hukuman pidana penjara tersebut, tutur dia, masih jauh di bawah ancaman hukuman maksimal Pasal 353 ayat (2) KUHP yakni tujuh tahun penjara.

Ia menambahkan bahwa hakim juga tak menghukum kedua terdakwa dengan Pasal 355 ayat 1 KUHP yang ancaman pidananya paling lama 12 tahun penjara sebagaimana surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) periode 2020-2023, Fatia Maulidiyanti, menuding ada persekongkolan antara lembaga negara dengan lembaga peradilan dalam sidang penyiraman air keras.

Fatia menyatakan hal tersebut melihat tuntutan ringan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap terdakwa yang menghukum dengan pidana 1 tahun penjara. Ia menganggap tuntutan yang diberikan jaksa itu mengunci putusan hakim.

Sebelumnya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara memvonis dua pelaku penyiraman air keras terhadap Novel, yaitu Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis masing-masing selama 2 dan 1,5 tahun penjara.

Baca Juga :  Mengenal Tapera, Program yang Potong Gaji Hingga 3 Persen

Atas vonis ini, kedua terdakwa menyatakan menerima putusan. Sedangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyatakan pikir-pikir.

News Feed