by

Fenomena Langit Januari 2021, Hujan Meteor hingga Wolf Moon

Sejumlah fenomena langit bakal nampak sepanjang Januari 2021, mulai hujan meteor, bulan purnama Wolf Moon, hingga berbagai peristiwa konjungsi.

Puncak hujan meteor Quandratid bisa disaksikan sejak kemarin hingga nanti malam. Hujan meteor ini diperkirakan menjadi salah satu yang paling kuat tahun ini.

Baca juga : Penyebab Asam Lambung Naik dan Cara Mengatasinya

Namun, kemungkinan hujan meteor ini sulit diamati lantaran langit lebih sering tertutup awan musim hujan. Selain itu waktu puncak hujan juga hanya sebentar.

Berikut beberapa peristiwa langit yang bisa disaksikan sepanjang 2020.

3 Januari
Puncak Hujan Meteor Quadrantid

Tahun 2021 akan diawali oleh pertunjukan hujan meteor Quadrantid di langit dari tanggal 28 Desember – 12 Januari. Dengan puncaknya terjadi pada 3 – 4 Januari 2021.

Hujan ini bisa disaksikan di arah rasi Bootes yang terbit pukul 02:43 WIB di arah timur laut. Bulan cembung yang terbit pukul 21:48 WIB akan jadi polusi cahaya alami dalam perburuan meteor Quadrantid.

Hujan meteor Quadrantid berasal dari puing-puing Komet Wirtanen saat berpapasan dengan Bumi pada tahun 1974. Melansir Space, Nama Quandratid diberikan karena hujan meteor ini dapat dulu dapat di amati di arah rasi Mural Quandrant. Tapi, rasi itu saat ini sudah tak lagi digunakan.

Konstelasi nama rasi ini pertama kali digunakan pada 1795 yang berada antara rasi Bootes dan Draco. Saat ini nama rasi itu tak terdaftar pada daftar Persatuan Astronomi Internasional.

Berbeda dengan hujan meteor lainnya, intensitas maksimum hujan meteor Quadrantid hanya terjadi beberapa jam. Saat malam puncak, pengamat bisa menikmati setidaknya 110 meteor per jam yang bergerak dengan kecepatan 41 km/detik.

Akan tetapi, bagi pengamat di belahan Bumi Selatan, hujan meteor Quadrantid tidak sebaik pengamat di Utara dan banyaknya meteor yang bisa dinikmati juga lebih sedikit, seperti dikutip dari Langit Selatan.

12 Januari
Konjungsi Bulan dan Venus

Baca Juga :  Spesifikasi Samsung Galaxy F41, OS Android 10 dan RAM 6 GB, Dibanderol Rp 3-4 Jutaan

Bulan sabit tua akan berdekatan dengan Venus sebelum fajar menyingsing. Venus akan terbit lebih dahulu pada pukul 04:28 WIB disusul Bulan sabit pukul 04:32 WIB.

Keduanya hanya terpisah 1,48 derajat dan berada pada ketinggian 13 derajat dari ufuk ketika Matahari terbit. Keduanya akan mudah terlihat pada pagi hari menjelang Matahari terbit.

20 Januari
Puncak hujan meteor Gamma-Ursae Minorid

Hujan meteor Gamma-Ursae Minorid akan aktif pada 15-25Januari. Puncak hujan ini diperkirakan berlangsung pada 20 Januari pukul 05:00 WIB. Sehingga pemandangan terbaik untuk menyaksikan hujan ini sebelum fajar.

Seperti namanya, hujan meteor ini bakal bisa terlihat di rasi bintang Ursa Minor. Dari Jakarta, hujan meteor ini baru terlihat pada dini hari sekitar pukul 02:11 WIB di arah horizon timur. hujan meteor akan terus aktif hingga fajar menjelang pukul 05:30 WIB, seperti dilansir In The Sky

21 Januari
Konjungsi Bulan-Mars

Bulan berkonjungsi dengan Mars dan bisa diamati setelah Matahari terbenam sampai tengah malam. Keduanya berada pada ketinggian 67 derajat saat Matahari terbenam di ufuk barat. Bulan berada 4,5 derajat di selatan Mars dan bisa diamati sampai kisaran pukul 23:57 WIB saat keduanya mulai menghilang di horison.

22 Januari
Konjungsi Mars-Uranus

Arah barat daya akan dihiasi dengan konjungsi Mars-Uranus pada tanggal ini selepas senja. Keduanya bisa dilihat di arah 7 derajat barat daya.

Mars akan terlihat lebih cerah dibanding Uranus yang jauh lebih redup. Uranus bakal terpisah 1,6 derakat atau seukuran ibu jari dari pengamat dari Mars.

28 Januari
Bulan Purnama Wolf Moon

Bulan purnama pada Januari dinamakan Bulan Purnama Serigala berdasarkan kalender Almanak Tua Petani di AS.

Baca Juga :  NASA Gandeng Nokia Bangun Jaringan 4G di Bulan

Selain disebut Wolf Moon, bulan purnama ini juga mendapat julukan Old Moon dan Moon after Yule. Pada bulan ini, Bulan akan bersinar dekat dengan rasi Gemini atau Cancer.

News Feed